3 Hal Dahsyat yang Dipelajari Anak saat Bermain

  • Admin Disdikpora
  • 09 September 2019
  • Dibaca: 297 Pengunjung

Satu hal yang jarang kita pahami ketika melihat anak kita bermain adalah pada saat bersamaan mereka juga sedang belajar. Sering kita lupa, menganggap bahwa bermain sekadar bermain. Sebuah aktivitas yang hanya dapat membuat anak tertawa riang dan bahagia. Padahal sejatinya bermain lebih dari sekadar itu. Bermain menjadi anjang bagi anak untuk  menemukan segalanya. Menemukan ide, menemukan pengetahuan, dan menemukan  keyakinan.

Seperti pagi ini. Keyla sedang berada di antara potongan mainan lego. Lego itu dilempar kesana kemari. Sampai memenuhi hampir sebagaian ruangan. Lego berantakan. Kemudian Keyla mengambil lego, mengumpulkannya menjadi satu dan menyusunya menjadi panjang. Ia berlari mendekati ibunya dan menanyakan, ”Apa itu, Bu?” sambil menunjuk susunan lego yang dibuatnya.

Dengan tersenyum, ibunya menjawab, ”Itu KE-RE-TA.” Keyla bertanya lagi untuk kedua kalinya, ”Apa itu, Bu?” Ibunya kembali menjawab, ”Itu KE-RE-TA.” ”Kereta? Itu Kereta. Kereta.” Keyla mengulang-ulangnya berkali-kali. Melihat yang dilakukan Keyla, apakah di benak kita sebagai orangtua melihat yang dilakukan sebatas bermain saja? Baik perhatikan ini, seorang pemerhati anak bernama Hope dalam bukunya Thinking and Learning Through Drawing menggatakan bahwa saat bermain dengan ide bukan hanya bentuk tertinggi dari aktivitas intelektual, bermain juga merupakan hal yang paling fundamental. Inilah tempat untuk memulai segalanya. Untuk bertanya, untuk berpikir, dan untuk menjadi makhluk rasional yang independen. Dari sini, kita tahu bahwa ada tiga hal yang dipelajari anak saat bermain:

Pertama, bertanya

Kita perhatikan, saat Keyla selesai menyusun lego menjadi bentuk yang sangat panjang. Kemudian tiba-tiba berlari mendekati ibunya dan bertanya, ”Apa itu, Bu?” Saat inilah anak mulai belajar menanyakan hal-hal baru yang baru pertama kali anak pahami. Bisa jadi lego yang tersusun menjadi panjang adalah bentuk benda yang baru pertama kali anak ketahui. Maka, anak perlu menanyakan hal itu kepada orangtua.

Kedua, berpikir

Berpikir menjadi tahap kedua setelah bertanya. Dari bermain anak akan secara tidak sadar menggunakan otaknya untuk berpikir. Hasil dari pemikiran inilah yang kemudaian menjadi stimulus yang akan masuk pada diri anak. Seperti yang Keyla lakukan. Ketika menanyakan kepada ibunya, ”Apa itu, Bu?” Keyla sedang berada dalam proses berpikir untuk mengetahui benda apa yang iya buat dari rangkaian lego-lego yang ia susun.

Ketiga, rasional 

Rasional menjadi tahap tertinggi dari bermaian. Anak akan menerima stimulus-stimulus dari luar kemudian anak mencernanya menjadi sebuah pemikiran yang rasional. Atau nalar anak dapat bekerja di sini..

Kerasioanal anak dapat dilihat dari beberapa kali anak bertanya dengan pertanyaan yang sama. Jika kita mendapati anak kita seperti ini, biarkan ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada kita. Karena saat itulah sebenarnya anak sedang menyerap rangsangan yang kita berikan mengenai hal baru yang anak dapatkan. Ketiga hal dahsyat inilah yang perlu kita tahu lebih dalam dari anak ketika mendapati anak kita sedang bermain. (Umi Khomsiyatun - Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret, Pegiat Literasi di Purwokerto) .

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900534

 

Share Post :