Jangan Marahi Aku, Ayah-Bunda.

  • Admin Disdikpora
  • 12 Juni 2019
  • Dibaca: 636 Pengunjung

Marah, seringkali seseorang melakukannya. Terlebih lagi orangtua yang masih memiliki anak pada masa pertumbuhan. Masa pertumbuhan merupakan masa anak-anak sedang mengenal lingkungannya. Sehingga banyak hal yang harus mereka ketahui, dan terkadang pula banyak hal yang mereka lakukan membuat orang dewasa (orangtua) ingin memarahinya. Padahal mereka belum sepenuhnya mengerti mana yang baik untuk dirinya dan mana yang membahayakan untuk dirinya. Namun kebanyakan orangtua tidak tahan dengan tingkah laku anaknya yang aktif, terlebih lagi kepada mereka yang sulit dinasihati. Hal tersebut bisa membuat emosi orangtua tak terkendali, bukan hanya memarahi namun bisa saja melayangkan sebuah pukulan pada anak tersebut. Semakin sering orangtua memarahi anak maka, bisa menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan. Padahal marah pada anak bukanlah solusi yang baik untuk menghentikan aksi mereka. Malahan dengan adanya marah akan memperburuk kondisi psikis dan motorik anak. Dampak negatif yang ditimbulkan akan berkelanjutan sampai anak tersebut tumbuh dewasa pula. Berikut beberapa dampak yang akan dialami oleh anak yang sering dimarahi:.

Tidak percaya diri

Hal tersebut bisa saja terjadi apabila orangtua sering membentak anaknya. Kebiasaan dimarahi akan membuat anak membatasi tingkah lakunya. Hal tersebut dilakukannya karena mereka menganggap dengan tidak melakukan apa-apa maka risiko dimarahi akan berkurang. Kebiasaan dimarahi juga akan membuat anak selalu berfikiran bahwa apapun yang dilakukan akan salah sehingga terkadang meraka akan mengurangi aksi mereka dan membuat kepercayaan diri pada anak hilang..

Pemarah dan suka menentang

Anak akan meniru kebiasaan yang dilakukan orangtuanya. Ketika memarahi anak sudah menjadi kebiasaan maka sikap tersebut akan ditiru oleh anak. Bahkan sampai mereka tumbuh dewasa, sehingga perilaku merekapun tidak jauh berbeda dengan orangtuanya. Anak akan melakukan hal tersebut kepada orang lain juga (temannya sendiri). Hal tersebut sebagai wujud pelampiasan, ketika mereka menahan amarah karena selalu disalahkan. Kemudian anak akan suka menentang kepada orangtuanya. Perilaku tersebut muncul ketika mereka sudah sering dimarahi. Hal itu ia lakukan sebagai perwujudan membela dirinya sendiri. Akibatnya anak akan berani berbicara kasar dan menentang orangtuanya..

Tingkat intelegesi berkurang

Anak yang terlalu sering dimarahi akan mendapat tekanan. Oleh sebabnya mereka akan cenderung mencari ketenangan, kenyamanan dan kesenangan di tempat lain. Sehingga mereka tidak terlalu memikirkan prestasi belajarnya di sekolah. Perlu diketahui pada tahap perkembangan anak memiliki sel otak yang jumlahnya lebih dari 10 triliun dan setiap bentakan atau amarah akan mampu membunuh lebih dari 10 miliar sel otak sekaligus. Sedangkan pujian, senyuman dan kasih sayang mampu meningkatkan pertumbuhan sel otak hingga 10 triliun. Alhasil anak yang kesehariannya dimarahi akan berakibat buruk pada prestasi belajarnya maupun kecerdasannya..

Sering melamun dan mudah stres

Akibat yang ditimbulkan selanjutnya yaitu anak akan sering melamun dan mudah depresi. Hal ini terjadi ketika mereka mendapat tekanan yang besar akibat sering dimarahi. Mereka cenderung memikirkan hal-hal yang tidak berguna hanya untuk menenangkan batinnya. Dan mereka akan mudah sedih dan tidak mampu mengendalikan atau menyemangati dirinya sendiri.  Sehingga akan mudah stres dan tumbuh menjadi pribadi yang lemah. Lantas bagaimana baiknya orangtua ketika menghadapi anak yang rewel dan super aktif? Hal yang paling utama adalah dengan memberitahunya secara halus. Namun apabila kita terlanjur marah atau membentak, setelahnya kita harus memberi pengertian terhadap mereka atau alasan kepada mereka hal apa yang membuat amarah orang tua muncul, dan tentunya harus dibicarakan dengan baik-baik dan dengan nada yang lembut pula. Rasulullah SAW juga mencontohkan agar orangtua memang harus sabar menghadapi anak kecil dan melarang membentak anak-anak. Sebaiknya orangtua membiarkannya terlebih dahulu karena anak juga perlu memahami sesuatu agar mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya. Ketika mereka melampaui batas maka hukumlah mereka sesuai kondisi dan keaadan yang terjadi, tidak boleh berlebihan ketika menghukum. Setelahnya berilah mereka hadiah atas apa yang dia lakukan. Namun pada bagian ini Rasulullah lebih menyukai mendidik anak tanpa amarah dan kekerasan. (Puji Rahayu).

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900401

 

 

 

Share Post :