Ketika Anak Tidak Naik Kelas

  • Admin Disdikpora
  • 27 Mei 2019
  • Dibaca: 1255 Pengunjung

Apa yang Ayah-Bunda alami ketika menerima raport dan ternyata anak tidak naik kelas? Bisa jadi emosinya spontan naik, sangat kecewa dan marah kepada anaknya. Seyogyanya dalam menghadapi anak yang tidak naik kelas tidak langsung marah. Tidak memvonis ananda sebagai anak bodoh. Karena pemicu anak tidak naik kelas tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan IQ-nya. Beberapa fakta menyebutkan bahwa hal-hal berikut ini dapat mengakibatkan anak terancam tidak naik kelas:.

Kurangnya kompetensi pada anak

Pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang cepat dalam menangkap pelajaran, ada pula yang lamban. Materi yang belum benar-benar dipahami dan ditambah lagi dengan materinya selanjutnya menjadikan anak menjadi bingung dan pusing. Anak cenderung akan malas dan takut menghadapi pelajaran. Pada tingkat Sekolah Dasar, kemampuan dasar seperti baca, tulis, hitung yang belum dikuasai dapat mengakibatkan anak terancam tidak naik kelas..

Salah metode pembelajaran

Anak yang aktif membutuhkan pembelajaran yang aktif pula. Saat tak mampu menyalurkan energinya, ia akan cenderung cepat bosan dan malas. Begitu pula sebaliknya dengan anak yang pendiam. Pembelajaran yang kurang tersistem dengan baik membuat anak merasa terbebani yang berdampak buruk terhadap hasil belajarnya..

Faktor fisik

Faktor fisik juga berpengaruh terhadap pembelajaran anak di sekolah. Anak yang kondisi badannya kurang sehat akan sulit untuk menerima pelajaran. Terlebih jika sering tidak masuk kelas karena sakit. Banyak materi pelajaran yang ia tinggalkan. Sehingga anak mengerjakan soal yang mana materinya belum didapatkan. Dampaknya hasil ujian tidak maksimal. Parahnya lagi jika daftar nilai kosong karena anak tidak mengikuti ujian susulan..

Faktor psikis dan lingkungan

Kondisi psikis juga turut ambil andil. Anak yang tinggal dalam keluarga dan lingkungan yang harmonis akan mempunyai semangat belajar yang tinggi. Sebaliknya, anak yang tinggal di lingkungan keluarga yang kurang harmonis dan kurang kasih sayang akan cenderung terhambat belajarnya. Teman sebaya juga sangat berpengaruh, biasanya anak yang terus bermain akan lupa untuk belajar.

Apalagi zaman sekarang ini gawai sudah menjadi barang yang selalu melekat di tangan sehingga membuat anak semakin enggan belajar. Setelah mengetahui penyebab anak tidak naik kelas, berikut ini solusi dalam menanganinya, antara lain:.

Memberikan motivasi kepada anak

Beri motivasi kepada anak agar anak tidak larut dalam kesedihan. Berikan stimulus agar anak semakin meningkatkan belajarnya. Tugas ini membutuhkan peran orangtua dan guru..

Penuhi dan tingkatkan kompetensi yang masih kurang

Hal krusial seperti membaca, menulis, dan menghitung harus terlebih dahulu dikuasai. Tekankan kompetensi dasar tersebut agar anak dapat memahami materi yang diajarkan. Guru harus benar-benar memastikan bahwa peserta didiknya telah memahami materi. Hal yang bisa dilakukan antara lain dengan bertanya pada akhir pembelajaran dan memberikan latihan secara berkala. Apabila seluruh siswa telah paham, maka materi dapat dilanjutkan..

Sesuaikan metode pembelajaran

Sesuaikan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan susun materi berdasarkan peta konsep sehingga materi dapat dipahami dengan baik.

Menata dan memperbaiki pola hidup

Orangtua perlu mengatur jam kegiatan anak. Jam antara maghrib dan isya atau waktu sahur sangat baik untuk belajar. Atur juga jam bermain agar tidak menyita waktu untuk kegiatan lain. Istirahat dan asupan gizi juga harus dalam kadar yang cukup. Selain itu, orangtua mempunyai kewajiban untuk mendorong anaknya untuk belajar. Sebisa mungkin Ayah-Bunda mendorong anak untuk dapat memahami hal yang belum dipahami. Hal tersebut tentunya sekadar kemampuan orangtua. Selain itu, anak juga harus bergaul dengan anak-anak lain yang memiliki semangat untuk belajar. Penggunaan gawai pun harus dibatasi dan terus diawasi. Semua usaha ini harus dilandasi dengan kesungguhan anak, guru, dan orangtua agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Terlepas dari semua itu, kita adalah manusia yang harus terus berdoa kepada Sang Maha Kuasa. (Kholilatul Fitri-Mahasiswa PAI, IAIN Pekalongan. Foto: Fuji Rachman)   .

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900396

Share Post :