Menjadi Orang Tua Pintar

  • Admin Bulelengkab
  • 26 September 2016
  • Dibaca: 595 Pengunjung

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Kita, sebagai orang tua menjadi guru pertamanya. Maka, mau tidak mau, agar bisa menjadi guru yang baik untuk mereka, kita harus mampu melengkapi diri dengan ilmu, pengetahuan dan keterampilan mendidik, sehingga anak-anak kita dapat “lulus” menjadi “siswa” yang “berprestasi”. 

Dengan demikian, tugas orang tua tidak hanya memberikan pangan (makanan), sandang (pakaian) dan papan (tempat tinggal), tapi juga memberikan asupan gizi untuk pertumbuhan intelektual, hati, dan jiwanya. Singkat kata, kita harus berusaha sepenuh hati agar bisa menjadi orang tua pintar.

Lantas bagaimana caranya agar kita menjadi orang tua pintar? Zaman terus berubah. Dulu referensi membesarkan dan mendidik anak biasanya diperoleh dari kedua orang tua. Rujukan orang tua kita saat mendidik adalah kakek nenek kita. Seiring berjalannya waktu, pola seperti itu telah berubah. Sekarang tersedia banyak cara untuk memperoleh pembelajaran tentang kepengasuhan (parenting).

Pertama, mengikuti seminar. Kesadaran masyarakat semakin meningkat. Banyak lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang memiliki kepedulian tinggi pada masa kepengasuhan. Salah satu contoh bentuk kepedulian tersebut berupa sosialisasi dan pemberian edukasi kepada masyarakat melalui seminar, mulai dari seminar menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak sampai seminar pengaruh televisi dalam pembetukan emosi anak. Melalui seminar ini, kita kemudian mengetahui beragam informasi terkini tentang perkembangan pendidikan kepengasuhan langsung dari para pakarnya. 

Kedua, mengikuti pelatihan. Ada hal-hal teknis dan detail yang perlu kita kuasai untuk menjadi orang tua pintar. Misalnya, bagaimana cara mendongeng sebagai pengantar tidur sekaligus menjadi cara internalisasi nilai-nilai. Jadi jika  dalam seminar, kita mendapatkan informasi dan pencerahan atau perubahan cara berpikir, maka di pelatihan, kita akan mendapatkan keterampilan teknis yang bisa langsung dipraktikkan.

Ketiga, bergabung dalam komunitas kepengasuhan (parenting). Perkembangan media sosial banyak melahirkan grup-grup dalam minat tertentu. Satu di antaranya tentang kepengasuhan. Dengan menjadi anggota, kita bisa memperoleh kiat-kiat berharga dari sesama anggota.  

Keempat, membaca (buku). Penerbitan buku-buku dari A sampai Z tentang kepengasuhan sekarang ini dengan sangat mudah kita jumpai di toko buku.  Kita bisa membeli dan membacanya sesuai kebutuhan. Dan jika ada sesuatu yang belum kita pahami, kita bisa langsung menghubungi penulisnya.

Kelima, silaturahmi ke orang yang kita pandang bisa dicontoh dalam cara mereka mendidik anak. Bukan untuk meniru sepenuhnya, tapi untuk memberikan inspirasi dan masukan tentang cara mendidik anak. (Agus M. Irkham, pegiat literasi)

Share Post :