Menyikapi Dampak Negatif Anak yang Terkena Prank.

  • Admin Disdikpora
  • 16 Juli 2019
  • Dibaca: 1347 Pengunjung

Anak membutuhkan rasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan siapapun, apalagi orangtuanya. Sebab, hanya orangtualah yang dianggapnya mampu memberikan kehangatan dan perlindungan dalam berbagai situasi. Orangtua juga menjadi sosok yang paling dipercayai anak untuk meningkatkan rasa nyaman dan aman..

Bagaimana jika orangtua justru gemar menjahili saat bercanda dengan anak, bahkan sampai membohongi anaknya sendiri? Meskipun sebenarnya tujuannya hanya untuk lucu-lucuan. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang selebriti kepada anaknya di kanal YouTube-nya. Ia sengaja melakukan prank (gurauan) dengan membohongi sang buah hati..

Dalam video tersebut jelas sekali terlihat betapa sedihnya anak menerima kebohongan orangtuanya ketika disebut sebagai anak orang lain. Perasaan mereka tersakiti dalam beberapa waktu. Meski tak tampak, dia juga akan meragukan dirinya sendiri..

Bagi anak, orangtua sebagai panutan, terutama dalam membedakan mana yang baik dan tidak baik. Dengan kata lain, anak mempercayai orangtuanya sebagai sumber informasi yang akurat dan dapat diandalkan..

Namun, ketika anak diberitahu bahwa kebenarannya adalah sebuah kebohongan, ia akan ragu. Ia juga mengalami krisis kepercayaan terhadap dunia di luar rumahnya. Maka setelah menjadi korban kejahilan yang cukup berbahaya, seperti berbohong, anak akan membenci orangtuanya. Ia juga tidak akan lagi mempercayai orangtuanya sebagai panutan.         

Selain itu, setelah mengetahui bahwa orangtuanya menjahilinya dengan cara berbohong, anak akan menganggap apa yang dilakukan orangtuanya itu boleh dilakukan, padahal tidak. Sebagai dampaknya, di kemudian hari ia pun akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Bisa jadi mereka mengeksplorasinya menjadi lebih ’hebat’..

Bukan tidak mungkin, kelak anak memiliki perilaku buruk. Bisa jadi ada hal yang tidak dapat anak ungkapkan, sehingga membuatnya cenderung melampiaskan dengan cara yang negatif atau tidak tepat. Untuk itu, ada baiknya orangtua memberikan cara prank yang memang menyenangkan hati anak dan membuatnya bahagia. Bukan sebaliknya, yaitu membuat hatinya sedih dan menangis. Pada masa-masa ini tumbuh kembang anak harus diperhatikan sejak dini. Termasuk pertumbuhan kejiwaannya. Orangtua tidak boleh sewenang-wenang berperilaku menyepelekan dalam mendidik anak. Berikanlah ruang bagi mereka untuk dapat mengekspresikan diri dengan emosi dan pemikiran yang baik..

Apabila orangtua tidak konsisten dalam menjalankan pola asuh, akan ada berbagai dampak buruk bagi anak. Salah satunya adalah perilaku manipulatif (tindakan secara langsung). Perasaan yang harus dimiliki seorang anak adalah rasa aman, terutama dari orangtuanya. Apabila rasa aman sudah terbentuk, ia tidak akan takut pada orangtua. Dengan begitu, ia pun akan memiliki rasa percaya saat harus mengungkapkan isi hati dan pikirannya kepada orangtua sampai tumbuh dewasa nanti. Hubungan antara orangtua dan anak pun akan terjalin dengan baik. (Nur Hafidz - Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Purwokerto. Program studi Pendidikan Anak Usia Dini. Relawan Pustaka Rumah Kreatif Wadas Kelir).

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900455

Share Post :