Pentingnya Membimbing Anak dalam ’Kemerdekaan’

  • Admin Disdikpora
  • 27 Agustus 2019
  • Dibaca: 347 Pengunjung

Setiap orangtua pasti ingin serta selalu mengupayakan hal-hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Masa kecil yang baik, pertumbuhan yang baik, pendidikan yang baik, pergaulan yang baik, bahkan masa depan yang baik. Mereka ingin melihat anak-anaknya berhasil, membanggakan keluarga, bisa berguna bagi lingkungan, agama, bangsa dan negara. Masalahnya, bila tidak berhati-hati, niat suci dan baik ini bisa saja membuat para orangtua tidak menyadari bahwa anak membutuhkan bimbingan dalam suasana yang merdeka. Apa maksudnya? Kita menyaksikan fenomena begitu banyak orangtua yang mendidik anaknya dengan terlalu berwaswas lalu memanjakannya. Ada lagi orangtua yang gemar mendikte anaknya bahkan akhirnya terbawa-bawa sampai dewasa. Padahal sejak dini, semestinya anak dilatih agar tumbuh menjadi sosok pribadi yang merdeka, tangguh dan mandiri. Tentu kita ingat peribahasa yang mengatakan, kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa. Artinya, kebiasaan sejak kecil yang sudah menjadi tabiat akan sukar sekali untuk diubah.

Bila sejak kecil anak tidak dibiasakan dan dibimbing menjadi anak yang merdeka, kemungkinan saat dewasa pun ia akan tumbuh menjadi sosok yang hidup di bawah kendali orang lain, tidak mampu berpikir mandiri bahkan menentukan nasibnya sendiri.           Orangtua yang bijak juga tidak akan suka apalagi selalu membanding-bandingkan anaknya dengan anak-anak yang lain. Ia akan lebih fokus membimbing dan membantu anaknya untuk menemukan minat dan keunggulannya sendiri seoptimal mungkin. Para orangtua harus sadar dan yakin bahwa setiap anak terlahir dengan keunikannya masing-masing.  .

Menikmati Proses Dewasa

Selanjutnya, para orangtua juga wajib bertanggung jawab terhadap kemerdekaan anak-anaknya untuk bisa menikmati proses tumbuh kembang menjadi dewasa sebagaimana anak-anak lain pada umumnya. Kita menyaksikan masih banyak anak yang kurang beruntung terpaksa kehilangan masa kecil, masa bermain, menikmati pendidikan dan bersosialisasi bersama teman karena kerasnya tuntutan hidup. Sejak kecil, mereka sudah hidup di bawah tekanan dan ’penjajahan’ orang lain. Kita miris menyaksikan pemandangan anak-anak kecil berkeliaran di jalan raya, bekerja mencari uang entah dengan cara berjualan, mengamen, atau meminta-minta. Tentu mereka sangat rentan menjadi korban para orang dewasa.  Kita tidak menafikan ada kondisi-kondisi tertentu yang mungkin membuat beberapa anak terpaksa harus mengalaminya. Misal anak yang menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia. Namun bila orangtuanya masih ada, kita harus mengingatkan bahwa mereka bertanggung jawab penuh mengupayakan bahkan menjamin kemerdekaan si anak untuk bisa menikmati proses pendewasaan secara normal. Dalam konteks yang lebih luas, negara (pemerintah) juga sudah dimandatkan oleh konstitusi kita untuk bertanggung jawab memelihara kehidupan anak-anak telantar. Artinya, sudah tidak ada lagi alasan anak-anak Indonesia harus mengalami ’penjajahan’ kerasnya tuntutan kehidupan.

Inspirasi Kemerdekaan

Saat ini kita memasuki bulan Agustus yang sering disebut sebagai bulan kemerdekaan. Sebagai orangtua, kita bisa mereguk inspirasinya secara khusus dalam hal mendidik anak. Bung Karno pernah mengatakan bahwa kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran, maka ingatlah bahwa membimbing dan membantu anak menikmati proses pendewasaan yang merdeka juga merupakan jalan membentuk mereka menjadi pribadi yang merdeka, tangguh dan mandiri. (Stevan Ivana Manihuruk - ASN, tinggal di Jambi)    .

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900500

Share Post :