Yuk Peduli Lingkungan Mulai dari Keluarga

  • Admin Disdikpora
  • 12 Juni 2019
  • Dibaca: 394 Pengunjung

Apa yang sudah Ayah-Bunda lakukan untuk mengajak buah hati peduli dengan lingkungan? Mungkin baru sebatas pengetahuan tentang bencana yang ditayangkan di televisi ya? Atau memberi pengertian untuk berbagi ketika ada musibah, atau bencana alam yang menimpa saudara kita di daerah lain..

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak Januari-Maret 2018 setidaknya telah terjadi 513 bencana alam berupa angin puting beliung, longsor, tsunami, dan daerah rawan banjir yang makin meluas. Tentu saja musibah ini jadi keprihatinan kita bersama. Bentuk keprihatinan itu harus ditindaklanjuti dengan action! Sudah saatnya Ayah-Bunda sebagai sumber informasi dan belajar buah hati tercinta yang bisa mengenalkan dan menerapkan agar anak-anak mau peduli dengan lingkungan. Ayah-Bunda bisa ceritakan dengan bahasa yang sederhana kepada anak-anak bahwa bencana alam penyebabnya bukan karena alam yang jahat. Penyebab terjadinya bisa juga karena ulah manusia. Ada kerusakan hutan, membuang sampah ke sungai, membuat rumah di lahan kritis, dan lemahnya implementasi tata ruang, juga masih rendahnya budaya sadar bencana. Mungkin Ayah-Bunda secara sadar sudah mengajak buah hati untuk memberikan donasi atau beramal sebagai wujud kepedulian membantu saudara kita yang terkena musibah. Bantuan tersebut bisa berupa uang, barang, atau hiburan dengan memanggil topeng monyet atau grup sulap yang bisa mengurangi beban psikologis bagi mereka yang baru saja tertimpa musibah. Menggalang dana dan bantuan merupakan sikap terpuji setelah usai terjadinya bencana. Setidaknya bisa memberi pertolongan dengan apa yang dibutuhkan korban saat itu. Namun Ayah-Bunda juga harus berwawasan ke depan. Setidaknya ikut berupaya menjaga alam dan lingkungan dalam jangka panjang. Salah satunya dengan membantu mengupayakan di dalam keluarga agar tercetak generasi yang peduli lingkungan dan membentuk karekter mereka agar ada pada perubahan sikap dan perilaku terhadap alam. Manusia atau anak yang lahir dari suatu keluarga yang peduli lingkungan, biasanya hatinya terpanggil dan berupaya memperbaikinya. Semua akan menjadi efektif jika dimulai dari pendidikan di dalam rumah berikut hal-hal yang bisa diterapkan orang tua dalam keluarga. Yuk, Ayah-Bunda kita awali segala sesuatu dari keluarga.

Pertama, mengajak anak suka menanam pohon adalah salah satu langkah yang efektif. Walau tidak memiliki lahan yang luas atau memadai, Ayah-Bunda bisa mengajarkan dengan menanam pohon dengan media tanah di dalam pot. Ceritakan juga bahwa kakek nenek di kampung juga punya kebiasaan menanam, sehingga sering panen dari apa yang sudah ditanam. Ayah-Bunda bisa menggunakan aneka pot atau media hidroponik untuk memanfaatkan lahan yang terbatas.

Kedua, mengurangi penggunaan plastik. Penggantinya Ayah-Bunda bisa menggunakan tas kain yang bisa dicuci dan digunakan berulang-ulang. Begitu juga dengan penggunaan botol plastik agar sampah plastik tidak selalu bertambah. Jadi pastikan membawa botol minuman dari rumah.

Ketiga, membiasakan dan mengenalkan pada anak agar membuang sampah pada tempatnya. Anak dibiasakan juga memilah sampah organik dan anorganik bisa menjadi cara efektif peduli pada lingkungan. Dari sampah plastik bisa didaur ulang untuk barang-barang yang bermanfaat.

Keempat, sejak dini, anak dijelaskan bahwa air itu sumber kehidupan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ceritakan juga adanya beberapa daerah yang sering kekeringan karena kekurangan air.Jadi hukumnya wajib menghemat air, atau menggunakan secukupnya.

Kelima, anak perlu dipahamkan tentang penghematan listrik. Listrik itu berasal dari sumber alam yang bisa habis bila digunakan terus menerus. Maka tanamkan kebiasaan agar mematikan lampu atau alat-alat yang berhubungan dengan listrik bila sudah tidak dipakai.

Keenam, Ayah-Bunda perlu menjelaskan pada anak agar menghemat kertas dan tisu karena bahan pembuatannya berasal dari pohon. Bila kebutuhan kertas meningkat maka terjadi penebangan pohon hingga kelestarian hutan terganggu. Tisu atau kertas lain yang digunakan dengan cara yang boros akan menimbulkan masalah baru, terutama dengan penumpukan sampah.

Ketujuh, anak juga harus paham bahwa plastic itu benda yang bersifat anorganik dan kimia dan butuh waktu 10 tahun berproses menjadi tanah. Bisa dikatakan bahwa plastik bila tidak dikelola dengan baik maka bisa menyebabkan pencemaran lingkungan. Untuk itu penggunaannya harus dibatasi.

Kedelapan, anak harus diedukasi juga tentang menghemat bahan bakar. Menghemat penggunaan kendaraan bermotor dapat mengurangi polusi terhadap lingkungan juga dapat menghemat sumber energi bumi yang terus berkurang. Tugas Ayah-Bunda dalam keluarga agar menjadi keluarga peduli lingkungan sebenarnya mudah bila sejak awal kita memberi contoh dan memberlakukan hal tersebut secara istikhamah. (Sri Sugiastuti - Kepala SMK Tunas Pembanguan 2 Surakarta, Penulis buku parenting berjudul Masuk Surga Karena Anak, Merawat Harapan dan The power of Mother’s prayers, pegiat literasi, pengurus IGI Surakarta).

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900410

Share Post :