(0362) 22442 disdik@bulelengkab.go.id
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga
Refleksi Pemikiran Kihajar Dewantara
Admin disdikpora | 04 Mei 2021 | Dibaca 4 kali

Dalam mendidik anak SMP, awalnya saya beranggapan bahwa tugas guru adalah mentransfer ilmu sebanyak – banyaknya agar setiap siswa yang saya ajarkan mengetahui, memahami dan menerapkan semua ilmu yang mereka dapatkan dari saya. Saya guru yang haus akan ilmu, itu juga yang saya inginkan atas siswa/siswi saya. Saya berharap mereka bisa menjadi seseorang yang saya inginkan, bahkan ketika saya mengajar, jika ada siswa yang bermain saya akan menegur mereka. Saya ingin mereka belajar dengan serius. Saya sangat mencintai siswa/siswi saya dan saya tidak ingin mereka gagal maka saya mendidik mereka cukup tegas. Memang sejak awal saya telah berfikir bahwa pendidikan itu harus berpusat pada siswa, tetapi saya salah mengartikan mengenai pendidikan yang berpusat kepada siswa, bahwa siswa di berikan makanan ilmu pengetahuan yang sebanyak – banyaknya ( Standar kurikulum yang berlaku) tanpa memperhatikan bagaimana siswa yang saya ajarkan.

Namun ketika saya mempelajari Pemikiran Pendidikan menurut Bapak Ki Hajar Dewantara, ada banyak hal yang membuat saya sadar ternyata mencintai murid saja tidak cukup, haus akan ilmu saja tidak baik, menginginkan siswa menjadi sesuatu yang kita inginkan bukanlah tujuan pendidikan, dan serius dalam belajar bukan cerminan siswa memahami apa yang kita ajarkan, bahkan ketika saya berpikir bahwa saya sudah melakukan banyak hal terhadap siswa/siswi saya bukanlah yang dikatakan dengan berpusat pada murid. Ahh….. ternyata saya belum banyak paham akan arti pendidikan yang sesungguhnya.

 

Bapak Kihajar Dewantara mengajarkan bahwa Pendidikan itu suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak – anak. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan – kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Hal ini dianalogikan seperti seorang petani. Petani yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodrat padi, padi tidak bisa di ubah menjadi jagung atau pun tanaman lainnya. Begitu pun siswa, tidak ada yang dapat mengubah kodrat alam anak karena anak dilahirkan dengan kodratnya masing – masing dan dasar jiwanya masing – masing. Guru hanya dapat menuntun, bagaimana cara guru menuntun akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembangnya anak – anak.

 

Selanjutnya hal yang saya pelajari lebih lanjut dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah Merdeka Belajar yang dikembangkan 4 dimensi yaitu Dimensi Jasmani, dimana pendidikan mengarah pada kemerdekaan fisik yang sehat dan kuat, produktif, kreatif dan inovatif. Kedua dimensi akal, mengarahkan pendidikan pada pencapaian kecerdasan yang lebih tinggi dan luas. Ketiga Dimensi Rohani, mengarahkan pada pencapaian keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan mencapai kemerdekaan mental dan kerohanian. Dan yang ke empat dimensi sosial, tercapainya sikap-sikap keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab,dan disiplin.

Ki Hajar Dewantara mengatakan dalam hal mendidik yang sesungguhnya adalah proses memanusia kan manusia yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Untuk mencapai hal itu pedoman yang dapat di gunakan yang sering disebut Trilogi Pendidikan, yaitu Ing ngarsa Sungtulada, guru didepan sebagai pemberi teladan ( contoh ) tindakan yang baik. Ing Madya Mangun Karsa, guru di tengah membangun semangat, memprakarsa ide dalam diri para siswa. Dan Tut Wuri handayani, yakni guru di belakang memberi dorongan dan arahan. Trilogi ini Jika di lakukan dengan menggunakan Metode Pembelajaran Among akan berdampak luar biasa pada perkembangan siswa/siswi dalam pendidikannya. Sistem Among memiliki pengertian menjaga, membina, mendidik anak dengan kasih sayang. Selain itu pendidik juga harus memahami bahwa karakteristik siswa adalah bermain, mengungkapkan rasa dan bebas (merdeka). Ketika guru memahami karakteristik siswa/siswi maka itu akan menolong guru untuk menuntun anak didik dengan baik pula.

 

Saya telah memutuskan bahwa inilah saatnya memperbaiki diri, sebagai seorang guru SMP dimana anak didik berusaha dengan keras mencari jati diri (masa peralihan dari anak – anak ke remaja dan pra dewasa), dan dengan berbekal penguatan dari pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan yang sesungguhnya. Saya dapat mengubah cara pandang saya terhadap anak didik saya, saya akan menolong mereka mengekplorasi pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pelajaran yang saya ajarkan. Saya akan tuntun mereka dalam mencari jati diri mereka dengan kodrat mereka masing – masing dan menjadi jati diri yang bermakna bagi mereka. Pendidikan harus berpusat pada siswa bukan dalam penyampaian materi pembelajaran tetapi akan saya terapkan dalam menuntun mereka. Salam Bahagia! Merdeka Belajar!

Sumber : https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/refleksi-pemikiran-kihajar-dewantara/

Share Berita Ini :