(0362) 22442 disdik@bulelengkab.go.id
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga
PENDIDIKAN KARAKTER BUKAN HANYA TANGGUNG JAWAB GURU PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan )
Admin disdikpora | 03 Mei 2021 | Dibaca 3 kali

Sumber : Suyanto Adi Atmono, SPd. Guru SMP Negeri 1 Lekok Kab. Pasuruan Jawa Timur.
Penulis : SUYANTO ADI ATMONO

PENDIDIKAN KARAKTER BUKAN HANYA TANGGUNG JAWAB

GURU PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan )

 

  Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Soft skill merupakan bagian keterampilan dari seseorang yang lebih bersifat pada kehalusan atau sensitivitas perasaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya. Mengingat soft skill lebih mengarah kepada keterampilan psikologis maka dampak yang diakibatkan lebih tidak kasat mata namun tetap bisa dirasakan. Akibat yang bisa dirasakan adalah perilaku sopan, disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerja sama, membantu orang lain dan lainnya. Soft skill sangat berkaitan dengan karakter seseorang.

           Menyadari pentingnya karakter, dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus degradasi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Agar peserta didik memiliki karakter mulia sesuai norma-norma, maka perlu dilakukan pendidikan karakter secara memadai dalam lembaga formal sesuai dengan implementasi Kurikulum 2013 yang mengacu pada Badan  Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara jelas dijabarkan standar kompetensi lulusan dan materi yang harus disampaikan kepada peserta didik. Karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Jelas sudah dari implementasi Kurikulum 2013 yang mengacu pada BSNP bahwa pendidikan karakter itu bukan hanya tanggungjawab guru PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) saja dimana materi PPKn secara umum dianggap menggajarkan etika moral atau perilaku kehidupan sehari-hari namun demikian masyarakat masih menganggap guru PPKn lah yang memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini jangankan masyarakat awam bahkan sebagaian oknum sejawat masih menggangap guru PPKnlah yang paling bertanggung jawab dalam pembentukan karakter peserta didik.

  Siapakah dalam hal ini yang bertanggung jawab dalam pendidikan karakter peserta didik .Sesuai dengan pendapat Pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantoro tanggungjawab pendidikan itu berada pada orang tua, pemerintah, dan masyarakat (Tri Pusat Pendidikan). Kalau kita amati dan sadari memang ketiga komponen tersebut saling berkaitan untuk mewujudkan pendidikan karakter yang baik. Komponen orang tua memiliki peran yang sangat besar karena kehidupan anak banyak bersama orang tua dalam hal ini keluarga maka dari itu diharapkan keluarga dapat memberi contoh dan memantau perilaku anak dengan penuh tanggung jawab demi tewujudnya karakter anak sesuai dengan harapan. Peran pemerintah tentunya sangat strategis dalam mewujudkan karakter anak menjadi karakter bangsa hal ini wujud dari tanggung jawab pemerintah yang dapat di implementasikan dalam bidang pendidikan baik secara formal maupun non formal.      Wujud dari pelaksanaan pendidikan karakter disekolah dapat di jalankan dengan berbagai cara misalnya melaksanakan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran hal ini tentunya semua guru mata pelajaran memiliki tanggung jawab terhadap pembentukan karakter anak didik bukan hanya guru PPKn saja, wujud pelaksanaan berikutnya adalah dijalankan secara terpadu melalui manajemen sekolah, khususnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat memfasilitasi peserta didik dan warga sekolah pada umumnya untuk menginternalisasi karakter yang baik. Keterbukaan, tanggungjawab, kerjasama, partisipasi, dan mandiri merupakan nilai-nilai dalam manajemen sekolah yang memandu kepala sekolah dalam mengelola sekolah yang bernuansa pendidikan karakter. Nilai-nilai itu yang memandu baik bagi kepala sekolah sendiri, para guru karyawan di sekolah, para stakeholder sekolah yang bersangkutan. Melalui manajemen, dilakukan proses pengintegrasian berbagai sumber daya dan tugas untuk mencapai berbagai tujuan yang telah ditentukan. Dalam kaitannya dengan pengelolaan sekolah, tujuan yang dimaksud adalah tujuan kurikuler yang dirumuskan berdasarkan tujuan kelembagaan dan tujuan pendidikan. Manajemen sekolah yang berkarakter baik (mengandung nilai-nilai karakter) adalah pemanfaatan dan pemberdayaan seluruh sumber daya yang dimiliki sekolah, melalui proses dan pendekatan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien, berdasarkan dan mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma yang luhur, baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, berbangsa maupun lingkungan. Dalam pengertian ini pendidikan karakter tidak dimaksudkan sebagai payung manajemen sekolah, melainkan sebagai upaya menerapkan nilai-nilai karakter dalam penyelenggaraan manajemen di sekolah, atau dengan kata lain bahwa nilai-nilai karakter ditanamkan secara terpadu ke dalam pengelolahan sekolah. Selain itu pendidikan karakter dapat di implementasikan melalui kegiatan pembinaan kesiswaan diantaranya, a. Pembinaan Ke-Imanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b. Pelaksanaan  Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). c. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). d. Penegakan Tatakrama dan Tata Tertib Sekolah.  e. Kepramukaan .f. Upacara Bendera. g. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Palang Merah Remaja (PMR) g. Pembinaan Bakat dan Minat, serta kegiatan ekstra kurikuler lainnya.

           Dari kedua komponen yang sudah dijelaskan tadi yaitu orang tua dan pemerintah dalam hal ini sekolah masih ada satu komponen yang tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan karakter seseorang yaitu masyarakat. Dalam membentuk karakter seseorang pengaruh kehidupan dalam masyarakat lebih dahsyat lagi. Masyarakat yang lingkungannya dinamis dapat mempengaruhi karakter seseorang menjadi baik sedangkan masyarakat yang penuh dengan gejolak tentunya juga berpengaruh kurang baik bagi perkembangan karakter seseorang. Jadi pada dasarnya untuk mewujudkan karakter seseorang bukan hanya tanggung jawab salah satu fihak saja melainkan semua fihak harus memiliki rasa peduli terhadap pembentukan suatu karakter seseorang demi terwujudnya karakter bangsa yang berbudi pekerti luhur yang dapat mewujudkan kehidupan damai dan sejahtera.

Sumber : https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/pendidikan-karakter-bukan-hanya-tanggung-jawab-guru-ppkn-pendidikan-pancasila-dan-kewarganegaraan/

Share Berita Ini :