(0362) 22442
disdik@bulelengkab.go.id
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga

Kemendikdasmen, KemenPPA, dan Tanoto Foundation Luncurkan “Misi untuk Raka” dan Strategi 3S Panduan Baru Orang Tua Mendampingi Anak di Era Digital

Admin disdikpora | 15 Mei 2026 | 714 kali

Kemendikdasmen, KemenPPA, dan Tanoto Foundation Luncurkan “Misi untuk Raka” dan Strategi 3S Panduan Baru Orang Tua Mendampingi Anak di Era Digital


JAKARTA PAUDPEDIA – “Teknologi, terutama gawai, perlu ditempatkan secara proporsional sebagai alat bantu, bukan sebagai pusat belajar, pusat aktivitas, apalagi pusat perhatian emosional anak,” tegas Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati.


Pernyataan tersebut menjadi alarm pengingat di tengah riuhnya transformasi digital yang merambah hingga ke ruang keluarga. Rita menekankan bahwa dalam konteks pendidikan, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan teknologi tidak menggeser pengalaman belajar anak yang seutuhnya—pengalaman di mana anak seharusnya bergerak, mencoba, berinteraksi, dan merefleksikan dunianya secara langsung.


Berangkat dari kegelisahan tersebut, sebuah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), serta Tanoto Foundation resmi meluncurkan buku cerita anak berjudul Misi untuk Raka”. 


Diluncurkan di aula Kemen PPPA, Jakarta, pada Rabu (13/5), buku ini hadir sebagai jawaban konkret atas tantangan tumbuh kembang anak di era digital melalui kampanye #SeruTanpaLayar.


Realitas Digital: Antara Kebutuhan dan Candu


Perkembangan teknologi memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, termasuk bagi anak usia dini. Namun, kemudahan akses gawai membawa risiko nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan: sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah mengakses dunia digital lebih dari dua jam per hari.


Angka ini jauh melampaui rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang menyarankan durasi penggunaan layar bagi anak usia 2–6 tahun maksimal hanya satu jam per hari, itu pun dengan pendampingan ketat orang tua.


Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menyadari bahwa teknologi tidak mungkin dihindari sepenuhnya. "Yang perlu dilakukan adalah memaksimalkan manfaat penggunaannya bagi anak. Karena itu, kolaborasi menjadi langkah penting untuk menghadirkan solusi alternatif kegiatan yang positif, sehingga mengurangi ketergantungan pada gawai," ujarnya.


Misi Raka: Lebih dari Sekadar Cerita


Buku “Misi untuk Raka” bukan sekadar bacaan pengantar tidur. Bagi anak usia 3–8 tahun, buku ini adalah gerbang menuju petualangan fisik yang nyata. Melalui narasi visual yang menarik, buku ini mengajak anak-anak menjalankan empat misi utama: bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya.


Rita Pranawati menambahkan bahwa melarang penggunaan ponsel saja bukan solusi yang efektif bagi orang tua. "Kita perlu menyediakan alternatif kegiatan. Buku 'Misi untuk Raka' ini diharapkan mampu menginspirasi para orang tua dan anak untuk menerapkan kebiasaan positif ke dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.


Tanpa pendampingan yang tepat, penggunaan gawai berisiko menggerus kebutuhan dasar anak akan eksplorasi lingkungan dan interaksi sosial. Padahal, pada usia dini, pengalaman sensorik dan motorik adalah fondasi utama kecerdasan mereka.


Panduan bagi Orang Tua: Strategi 3S


Selain untuk anak, buku ini juga berfungsi sebagai panduan praktis bagi orang tua melalui prinsip 3S:


Screen Time: Mengatur durasi waktu layar yang bijaksana.

Screen Break: Memberikan jeda secara berkala untuk mengistirahatkan mata dan pikiran.

Screen Zone: Menetapkan area bebas gawai di dalam rumah.

Eddy Henry, Head of Policy and Advocacy Tanoto Foundation, menjelaskan bahwa fokus mereka adalah menghadirkan pendekatan yang lebih positif. "Anak usia dini tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, dan membangun interaksi sosial secara nyata. Kami tidak hanya membatasi, tapi memperkenalkan aktivitas alternatif yang bermakna," kata Eddy.


Komitmen Berkelanjutan untuk Literasi


Tanoto Foundation, organisasi filantropi yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto sejak 1981, terus konsisten mendukung pemerintah dalam penguatan sumber daya manusia. “Misi untuk Raka” merupakan buku seri keempat dalam koleksi Buku Cerita Anak SIGAP.


Sebelumnya, kolaborasi ini telah menghasilkan "Rubrik Unik Korona" (2021) tentang pandemi, "Saat Noni Datang" (2022) tentang edukasi emosi, dan "Bisa atau Tidak, Ya?" (2024) tentang kemandirian. Kehadiran buku-buku ini menjadi bukti bahwa literasi adalah kunci utama dalam membangun pola asuh yang sehat.


Menteri PPPA menutup dengan sebuah pesan penting bahwa tanggung jawab pengasuhan di era digital adalah kerja kolektif. "Tanggung jawab ini memerlukan peran orang tua, masyarakat, institusi pendidikan, hingga media demi mewujudkan lingkungan yang aman dan inklusif bagi anak," pungkasnya.


Kini, orang tua di seluruh Indonesia dapat mengakses “Misi untuk Raka” baik dalam format cetak maupun unduhan gratis melalui situs resmi Tanoto Foundation. Sebuah langkah kecil untuk membawa anak-anak kembali ke dunia nyata, di mana kegembiraan sejati tidak ditemukan di balik layar kaca, melainkan dalam gerak, karya, dan tawa bersama.


Sumber : https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/berita/kemendikdasmen-kemenppa-dan-tanoto-foundation-luncurkan-misi-untuk-raka-dan-strategi-3s-panduan-baru-orang-tua-mendampingi-anak-di-era-digital?do=MzAwMi04M2VlMzYyMA&ix=MTEtYmJkNjQ3YzA