(0362) 22442
disdik@bulelengkab.go.id
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga

Mengapa Bahasa Daerah Bisa Hilang dan Mengapa Kita Harus Peduli?

Admin disdikpora | 16 September 2026 | 10 kali

Mengapa Bahasa Daerah Bisa Hilang dan Mengapa Kita Harus Peduli?

Bahasa daerah di Indonesia benar-benar terancam punah. Berdasarkan data resmi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), saat ini telah dicatat setidaknya 11 bahasa daerah di Indonesia yang dinyatakan punah (sebagian besar di wilayah Maluku dan Papua), dan puluhan lainnya berada dalam status terancam hingga kritis.

Bagaimana Bahasa Daerah Bisa Hilang/Punah?

Menurut Badan Bahasa Kemendikbudristek, kepunahan bahasa terjadi bukan karena bahasanya yang mendadak hilang, melainkan karena berhentinya transmisi (penurunan) bahasa dari orang tua ke anak. Faktor utamanya meliputi:

Sikap Bahasa dan Stigma Negatif: Adanya persepsi salah di kalangan generasi muda bahwa menggunakan bahasa daerah itu "tidak keren", "ketinggalan zaman", atau kampungan. 

Pergeseran Bahasa di Lingkungan Keluarga: Banyak orang tua tidak lagi membiasakan bahasa ibu (mother tongue) di rumah dan langsung mengajarkan bahasa nasional atau asing. 

Perkawinan Antarsuku & Migrasi: Pernikahan beda budaya dan urbanisasi sering membuat sebuah keluarga memilih bahasa netral (Bahasa Indonesia) sebagai komunikasi harian. 

Dominasi Bahasa Mayoritas & Media: Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang dominan di media sosial, ruang publik, serta pendidikan formal menggeser porsi penggunaan bahasa daerah.

Depopulasi Penutur: Bencana alam, konflik, atau berkurangnya penutur asli berusia lanjut tanpa adanya penerus generasi muda.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Menteri serta para ahli linguistik dari Kementerian Pendidikan menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kata untuk berkomunikasi, melainkan fondasi peradaban.

Kehilangan Identitas dan Kebinekaan: Bahasa daerah adalah identitas utama suatu suku. Jika bahasanya punah, identitas dan keberagaman budaya masyarakat tersebut ikut terhapus. 

Hilangnya Kearifan Lokal (Local Wisdom): Banyak pengetahuan tradisional tentang obat-obatan, pengolahan alam, ajaran moral, dongeng, dan falsafah hidup tersimpan dalam struktur bahasa daerah. Saat bahasanya hilang, pengetahuan tersebut tidak lagi bisa dipahami secara utuh. 

Hilangnya Warisan Budaya Takbenda: Karya sastra lisan seperti pantun, syair, mantram, dan seni pertunjukan daerah bergantung pada keutuhan bahasa daerahnya.

Langkah Nyata Pelestarian (Revitalisasi Bahasa)

Pemerintah melalui Gerakan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) menekankan pentingnya peran tiga pilar:

1. Keluarga: Menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu yang aktif dituturkan di rumah. 

2. Sekolah & Komunitas: Memasukkan bahasa daerah dalam Muatan Lokal (Mulok) serta ruang kreatif seperti lomba mendongeng, komedi tunggal (stand-up comedy), dan nyanyian. 

3. Generasi Muda: Bangga menggunakan bahasa daerah di media sosial dan ruang digital (menciptakan konten ber-bahasa daerah).

Sumber : https://ditsmp.kemendikdasmen.go.id/berita/mengapa-bahasa-daerah-bisa-hilang-dan-mengapa-kita-harus-peduli