PAUDPEDIA Ayah, Bunda, dan Kawan PAUD, pernah berjanji kepada anak hanya agar ia berhenti menangis? “Nanti Ayah belikan mainan,” “Besok kita jalan-jalan,” atau “Nanti Ibu temani bermain.” Setelah anak tenang, janji itu justru terlupakan. Bagi orang dewasa, janji seperti ini mungkin dianggap sepele. Namun, bagi anak, janji berkaitan dengan bagaimana ia belajar mempercayai perkataan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa sejak usia prasekolah, anak sudah mulai | memperhatikan apakah seseorang menepati atau melanggar janji. Pengalaman tersebut kemudian digunakan anak untuk menentukan apakah orang tersebut dapat dipercaya. Lalu, apa yang perlu dilakukan orang tua agar tidak sembarangan membuat janji kepada anak?
1. Jangan Berjanji Hanya untuk Menghentikan Tangisan Ketika anak menangis meminta mainan, hindari mengatakan, “Sudah, jangan menangis. Besok Ibu belikan,” jika sebenarnya tidak berniat membelinya. Lebih baik katakan dengan jujur, “Kamu ingin sekali mainan itu, ya. Tapi hari ini kita tidak membelinya.” Anak mungkin tetap kecewa, tetapi ia mendapatkan respons yang jujur dari orang tuanya.
2. Bedakan Janji dengan Rencana Tidak semua rencana harus disampaikan sebagai janji. Jika belum yakin dapat melakukannya, jangan buru-buru berkata, “Ibujanji”
Misalnya, daripada mengatakan, “Ibu janji besok kita pergi ke taman,” lebih baik katakan, “Kalau besok tidak hujan, kita
coba pergi ke taman, ya.”
Dengan begitu, anak juga belajar bahwa sebuah rencana dapat berubah karena keadaan tertentu.
3. Kalau Sudah Berjanji, Usahakan Menepatinya
Janji sederhana pun penting bagi anak. Jika orang tua sudah mengatakan akan membacakan buku setelah makan
malam, misalnya, usahakan benar-benar menyediakan waktu untuk melakukannya.
Anak belajar tentang kepercayaan bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari pengalaman ketika perkataan orang dewasasesuai dengan tindakannya.
4. Jika Tidak Bisa Menepati, Jelaskan kepada Anak
Ada kalanya orang tua sudah berniat menepati janji, tetapi keadaan berubah. Jangan berpura-pura lupa.
Katakan, misalnya, “Ayah ingat sudah berjanji mengajak kamu ke taman. Tapi hari ini hujan deras, jadi kita belum bisa pergi. Maaf, ya."
Mengakui janji yang tidak dapat dipenuhi membantu anak melihat bahwa orang dewasa tetap bertanggung jawab terhadap perkataannya.
5. Jangan Berhenti pada Kata Maaf
Jika memungkinkan, lakukan perbaikan. Misalnya, jadwalkan kembali kegiatan yang batal atau tawarkan waktu lain untuk melakukan hal yang sudah dijanjikan.
Dengan demikian, anak tidak hanya mendengar permintaan maaf, tetapi juga melihat bagaimana seseorang berusaha memperbaiki keadaan setelah tidak dapat memenuhi perkataannya.
Ayah, Bunda, dan Kawan PAUD, menepati janji bukan berarti harus selalu memenuhi keinginan anak. Yang terpenting adalah tidak menggunakan janji secara sembarangan. Jika belum yakin, jangan berjanji. Jika sudah berjanji, usahakan menepatinya. Jika tidak dapat dilakukan, jelaskan dengan jujur dan lakukan perbaikan jika memungkinkan. Sebab dari janji-janji sederhana, anak sedang belajar apakah perkataan orang yang dipercayainya dapat dipegang.