PAUDPEDIA Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahkah kita mengajak anak memahami bahwa hutan juga merupakan “rumah”? Di antara pepohonan, semak, tanah, dan aliran air hidup berbagai makhluk, mulai dari burung, serangga, tumbuhan, hingga hewan lainnya. Karena itu, ketika hutan rusak, bukan hanya pohon yang hilang, tetapi tempat hidup berbagai makhluk juga ikut terganggu.
Pemahaman tersebut membutuhkan pendekatan yang kaya pengalaman alam, bermain, bergerak, dan berinteraksi dengan lingkungan. Artinya, sebelum meminta anak “menjaga hutan”, anak perlu terlebih dahulu mendapatkan kesempatan untuk mengenal, mengalami, dan membangun hubungan dengan alam. Bagaimana caranya? Yuk kita simak penjelasan berikut ini:
1. Ajak anak mengamati alam secara langsung Guru dapat mengajak anak berjalan di halaman sekolah, taman, kebun, atau lingkungan alam yang aman di sekitar satuan PAUD. Tidak harus pergi ke hutan. Mintalah anak memperhatikan pohon, daun, bunga, tanah, semut, kupu-kupu, burung, atau benda alam lain yang ditemukannya. Guru dapat memancing rasa ingin tahu dengan pertanyaan seperti, “Siapa yang tinggal di pohon ini?”, “Menurutmu, kenapa semut berjalan ke sana?”, atau “Apa yang terjadi kalau pohon ini tidak ada?”
2. Ajarkan anak mengamati tanpa harus mengambil Anak sering kali tertarik memetik bunga, mengambil daun, menangkap serangga, atau membawa benda alam yang menarik perhatiannya. Situasi seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan sikap menghargai makhluk hidup. Guru dapat mengatakan, “Kita boleh melihat bunganya. Menurutmu, apakah kita perlu memetiknya?” atau “Ada serangga di sini. Yuk, kita lihat tanpa mengganggu rumahnya.” Praktik semacam ini membantu membangun rasa hormat dan tanggung jawab terhadap kehidupan di alam.
3. Kenalkan bahwa hutan adalah rumah bagi makhluk hidup Gunakan cerita, permainan peran, gambar, atau percakapan sederhana untuk membantu anak memahami hubungan antarmakhluk hidup. Misalnya guru dapat bertanya, “Kalau pohonnya ditebang semua, burung akan tinggal di mana?” atau “Kalau kita merusak sarang semut, apa yang terjadi dengan semutnya?” Berikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya. Anak belajar bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni bumi dan bahwa tumbuhan maupun hewan juga membutuhkan tempat hidup.
4. Biasakan tindakan kecil yang benar-benar dilakukan anak Menjaga hutan tidak perlu dikenalkan melalui tindakan besar. Mulailah dari kebiasaan yang dapat dilakukan anak, misalnya tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan kertas secukupnya, menggunakan kembali bahan yang masih dapat dipakai, merawat tanaman, memilah sampah, serta tidak merusak tumbuhan dan hewan yang ditemukan.
5. Berikan ruang bagi anak untuk bertanya dan menentukan tindakan Pembelajaran lingkungan tidak harus sepenuhnya dikendalikan guru. Ketika anak menemukan sesuatu yang menarik, ikuti rasa ingin tahunya. Misalnya ketika anak menemukan ulat, jangan buru-buru melanjutkan kegiatan karena “tidak ada di rencana pembelajaran”. Guru dapat berhenti sejenak dan bertanya, “Menurut kalian, ulat ini sedang apa?” atau “Apa yang sebaiknya kita lakukan supaya ulatnya tetap aman?” Pada dasarnya lingkungan alam memiliki potensi besar untuk pembelajaran spontan ketika guru memberi ruang bagi anak untuk bergerak, menemukan sesuatu, dan ikut menentukan arah pembelajaran.
6. Akhiri dengan refleksi sederhana Setelah kegiatan, ajak anak menceritakan kembali pengalamannya. Guru dapat bertanya, “Apa yang paling kamu suka hari ini?”, “Makhluk hidup apa yang kita temukan?”, atau “Apa yang bisa kita lakukan supaya tempat ini tetap nyaman | untuk hewan dan tumbuhan?” Refleksi sederhana membantu anak menghubungkan pengalaman dengan tindakannya. Mengenalkan kepedulian terhadap hutan tidak berarti satuan PAUD harus berada di dekat hutan. Lingkungan sekitar sekolah dapat menjadi pintu masuknya. Sebatang pohon di halaman, tanaman dalam pot, taman kota, kebun sekolah, serangga yang hinggap di daun, bahkan daun yang berguguran dapat menjadi sumber belajar.
Sumber : https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/galeri-ceria/ruang-artikel/hutan-juga-rumah-mengenalkan-kepedulian-lingkungan-sejak-usia-dini?ref=MzMxNy1mMzU5MjVjMQ&ix=NDctOTUyYzA2MGM