Guru SLB, Perubahan Iklim, dan Anak-Anak yang Paling Rentan
Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, bekerja sama dengan Save the Children, tengah menyiapkan sebuah langkah penting: meningkatkan kompetensi guru-guru SLB agar mampu mengajarkan isu perubahan iklim kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
Sebuah langkah yang mungkin tampak sederhana di permukaan, tetapi sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih dalam tentang arah masa depan pendidikan kita.
Kita hidup di zaman ketika perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana global, melainkan realitas yang pelan-pelan masuk ke ruang-ruang hidup kita. Data menunjukkan, sekitar 1 miliar anak di dunia hampir setengah populasi anak global hidup di wilayah dengan risiko tinggi terdampak perubahan iklim, dan sedikitnya 37 juta anak kehilangan kesempatan pendidikan akibat situasi tersebut.
Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah gambaran tentang masa depan yang sedang terancam. Indonesia sendiri tidak berada di luar lingkaran risiko itu. Secara geografis dan sosial, Indonesia termasuk dalam sepertiga negara paling rentan terhadap krisis iklim, terutama karena ketergantungan masyarakat pada sektor-sektor yang sangat dipengaruhi kondisi alam.
Dalam konteks pendidikan, kerentanan ini berarti satu hal sederhana: proses belajar anak-anak kita semakin tidak pasti. Namun, dibalik kerentanan umum itu, ada kelompok yang menghadapi risiko jauh lebih besar: anak-anak berkebutuhan khusus. Di Indonesia, terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas yang berpotensi terdampak perubahan iklim dengan tingkat kerentanan berlapis. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman fisik dari bencana, tetapi juga persoalan kesehatan, keterbatasan mobilitas, hingga hambatan akses terhadap layanan dasar. Dalam banyak situasi darurat, mereka menjadi kelompok yang paling sulit dijangkau, sekaligus paling mudah tertinggal.
Kita bisa membayangkan, ketika banjir datang, ketika gelombang panas meningkat, atau ketika kualitas udara memburuk apa yang dialami anak-anak lain saja sudah berat, apalagi bagi mereka yang memiliki keterbatasan tertentu. Dalam situasi seperti itu, pendidikan bukan hanya soal belajar, tetapi soal bertahan hidup.
Di sinilah peran guru SLB menjadi sangat penting bahkan bisa dikatakan berada di garis depan yang sering tidak terlihat. Guru SLB bukan hanya mengajar, tetapi juga memahami setiap keterbatasan, membaca setiap kebutuhan, dan menyesuaikan setiap proses pembelajaran agar benar-benar bermakna bagi anak didiknya. Ketika isu perubahan iklim masuk ke dalam ruang kelas, tantangannya menjadi berlipat: bagaimana menjelaskan sesuatu yang kompleks dengan cara yang sederhana, konkret, dan tetap bisa dipahami oleh anak-anak dengan beragam kondisi.
Namun, kita juga perlu jujur mengakui, tidak semua guru telah siap untuk itu. Selama ini, pendidikan perubahan iklim sering dipahami sebagai tambahan materi, bukan sebagai cara baru dalam melihat dunia. Akibatnya, pendekatan pembelajarannya pun kerap berhenti pada pengetahuan anak tahu tentang banjir, tahu tentang panas, tahu tentang lingkungan tetapi belum sampai pada kesadaran dan sikap.
Padahal, yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar anak peduli dan mampu beradaptasi. Dan untuk sampai kesana, guru harus lebih dulu memiliki pemahaman yang utuh, sekaligus kemampuan pedagogis yang tepat. Bagi guru SLB, ini berarti kemampuan untuk menerjemahkan isu global menjadi pengalaman belajar yang dekat, nyata, dan relevan dengan kehidupan anak-anak mereka.
Program peningkatan kompetensi guru SLB dalam pendidikan perubahan iklim yang sedang digagas ini, bukan sekadar program pelatihan biasa. Ia hadir sebagai jawaban atas situasi yang mendesak. Apalagi, pendidikan perubahan iklim telah ditetapkan sebagai salah satu dari tiga isu prioritas dalam kurikulum nasional, sekaligus bagian dari upaya membangun karakter bangsa yang tangguh dan adaptif. Artinya, kita tidak lagi punya ruang untuk menunda.
Pendidikan perubahan iklim, terlebih dalam konteks pendidikan khusus, pada akhirnya bukan soal materi, melainkan soal cara pandang. Ia menuntut kita untuk melihat anak-anak bukan sebagai objek yang harus “diberi tahu”, tetapi sebagai individu yang perlu dibantu untuk memahami, merasakan, dan merespons dunia di sekitarnya.
Di kelas-kelas SLB yang sering sunyi dari sorotan, para guru sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting: menjaga harapan. Mereka mengajarkan bukan hanya tentang membaca, menulis, atau berhitung, tetapi tentang bagaimana hidup di dunia yang tidak selalu ramah dan tetap menemukan cara untuk bertahan.
Mungkin disitulah letak makna terdalam dari upaya ini. Bahwa ketika bumi sedang berubah, dan masa depan terasa semakin tidak pasti, pendidikan harus tetap berdiri sebagai ruang yang menyiapkan harapan. Dan di antara mereka yang bekerja paling sunyi untuk itu, ada guru-guru SLB yang dengan segala keterbatasannya, tetap setia mengajarkan masa depan kepada anak-anak yang paling rentan.
Sumber : https://gtkdikmendiksus.kemendikdasmen.go.id/guru-slb-perubahan-iklim-dan-anak-anak-yang-paling-rentan/