PAUDPEDIA--Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Gempa bumi, banjir. letusan gunung api, hingga tanah longsor kerap datang tanpa
peringatan. Saat bencana terjadi, perhatian kita sering tertuju pada kerusakan fisik bangunan dan infrastruktur. Namun, ada satu dampak yang
sering luput dari perhatian, yaitu luka psikologis pada anak usia dini.
Bagi anak-anak, bencana bukan Sekadar peristiwa alam. Kehilangan rumah, terpisah dari keluarga. suasana pengungsian yang tidak nyaman.
serta ingatan menakutkan dapat meninggalkan trauma mendalam. Meski secara fisik tampak baik-baik saja, secara emosional anak bisa
mengalami ketakutan, kecemasan, sulit tidur, bahkan menarik diri dari lingkungan sekitar. Lalu apa yang perlu kita perhatikan untuk membantu
mereka?
1. Pemulihan Anak Tidak Cukup dengan Bantuan Fisik
Pemulihan pasca bencana bukan hanya soal membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga memulihkan rasa aman dan kondisi
psikologis anak-anak. Anak usia dini belum mampu mengekspresikan perasaan traumatisnya dengan kata-kata. Mereka membutuhkan
cara yang alami dan sesuai dengan dunianya untuk pulih. Di sinilah bermain memiliki peran yang sangat penting.
2. Penting Memberikan Ruang Bermain sebagai Sarana Pemulihan Anak
Kehadiran ruang bermain (play space/playroom) sangat membantu proses pemulihan anak pasca bencana. Bermain bukan sekadar
aktivitas pengisi waktu, tetapi merupakan cara anak mengekspresikan emosi, mengolah pengalaman, dan membangun kembali rasa
aman.
Melalui bermain:
" Anak dapat menyalurkan rasa takut dan cemas secara alami
" Anak kembali merasakan rutinitas yang menyenangkan
" Anak belajar berinteraksi dan membangun kembali hubungan sosial
" Anak perlahan memperoleh kembali rasa aman dan percaya diri
Aktivitas seperti bermain pasir. air, menggambar, bermain peran, atau permainan gerak sederhana terbukti membantu anak menenangkan
diri dan mempercepat proses pemulihan psikologis. Ruang bermain ramah anak menjadi bagian penting dari layanan pasca bencana,
terutama di lokasi pengungsian.
Ruang bermain yang aman, sederhana, dan terkelola dengan baik dapat menjadi:
" media pemulihan trauma
" sarana pendampingan psikososial
" ruang tumbuh kembang anak di tengah situasi darurat
Kehadiran pendidik, relawan, atau konselor yang memahami dunia anak akan semakin memperkuat manfaat ruang bermain ini.
3. Jadikan Pemulihan Tanggung Jawab Bersama
Pemulihan anak pasca bencana bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, relawan. dan masyarakat
perlu bekerja sama memastikan bahwa kebutuhan psikologis anak terpenuhi. Anak tidak boleh menjadi korban yang "terlupakan" dalam
proses pemulihan bencana.
Jadi mari saling bekerja sama mengembalikan senyum anak-anak kita yang tertimpa bencana. Bergandeng tangan mengembalikan rasa
aman nyaman mereka. Bermain mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan anak untuk dapat
beraktivitas kembali dengan aman, menyenangkan, dan penuh harapan.
Sumber : https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/galeri-ceria/ruang-artikel/kembali-ceria-melalui-bermain-ciptakan-ruang-aman-anak-pasca-bencana?ref=Mjc3MS1mOTNmMTZmYQ&ix=NDctNGJkMWM0YjQ