(0362) 22442
disdik@bulelengkab.go.id
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga

Ketika Anak Berbohong

Admin disdikpora | 10 Januari 2019 | 2639 kali

Saat saya masih kecil, saya sering berbohong kepada orangtua. Mulai dari nilai yang jelek lalu saya robek kertasnya, sampai dengan memakai uang pembayaran buku tanpa seizin orangtua meskipun saya mengembalikan lagi. Semua itu karena saya tidak berani untuk berkata jujur di hadapan kedua orangtua saya sendiri.

Saya selalu dibayang-bayangi rasa takut untuk jujur kepada orangtua saya sendiri. Pasalnya jika saya berterus terang pasti bapak atau ibu memberikan respons pertama kali dengan marah dan bentakkan. Kedua hal tersebut membuat saya berkecil hati untuk bersikap jujur.

Itu semua sangat berdampak pada diri saya saat ini. Saya selalu takut jika ingin berterus terang dalam hal apapun kepada orangtua saya sendiri.

Namun suatu saat, hati kecil saya memberontak. Saat dihadapkan pada posisi yang mengharuskan saya untuk berbohong. Dalam hati kecil saya seolah terjadi perang hebat antara kejujuran dan kebohongan.

 

Kala itu saya dihadapkan pada situasi dimana saya harus meminta tanda tangan kepada ayah saya karena nilai PR saya yang jeblok. Hingga pada akhirnya saya beranikan diri untuk berterus terang kepada orangtua saya melalui sepucuk surat.

Dari pengalaman ini, saya pun berpikir. Memarahi anak karena kejujurannya adalah salah besar. Terlebih kita adalah orangtua yang seharusnya selalu dipercaya oleh anak. Orang yang seharusnya selalu menjadi sahabat bagi anak. Serta orang yang alangkah baiknya menjadi pendengar setia bagi anak kita sendiri.

Yang lebih dibutuhkan adalah membentuk karakter jujur pada diri anak adalah salah satu tugas mulia kita sebagai orangtua. Berikut beberapa cara mudah untuk melatih anak kita jujur:

Pertama, jangan memberi respons negatif

Saat anak mencoba untuk berkata jujur alangkah baiknya jika kita tak meresponsnya dengan bentakkan, marah atau memotong perkataan jujurnya. Semarah apapun kepada anak kita yang awalnya berbohong lalu ia mencoba bersikap dan berkata jujur, tak semestinya terburu-buru memarahinya. Hal tersebut akan berdampak pada kondisi psikis anak kita.

Kedua, dengarkan secara menyeluruh

Menjadi pendengar yang baik untuk anak kita adalah tindakan yang tepat. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk respons positif untuk kejujurannya. Sekecewa apapun kita terhadap kebohongan yang sebelumnya anak kita lakukan, janganlah membuat kita menjadi melabeli anak kita seorang anak pembohong. Dengarkan setiap kata kejujuran dari bibir mungilnya. Biarkan ia berproses untuk menjadi anak yang berani dan bertanggung jawab atas kesalahannya. Buat anak kita merasa nyaman dengan kejujuran yang telah ia ungkapankan. Ini menunjukkan bahwa kita juga belajar menjadi orangtua yang lebih bijaksana.

 

Ketiga, ajak anak menyadari jujur adalah hal baik

Saya pernah mengalami kondisi seperti ini. Saat saya mendapati adik yang saat itu duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar menyembunyikan hasil nilai hariannya yang jelek. Sepulang sekolah, saya menjemput adik.

Sampai di rumah, saya mengecek buku catatan hariannya di sekolah. Hal ini memang biasa saya lakukan hampir seminggu sekali. Karena saya ingin memantau perkembangan belajarnya.

Saat saya membuka buku tersebut, ada bekas robekan halaman yang hilang. Saya pun bertanya pada adik saya, ”Halaman ini dimana?” Adik saya hanya menjawab, ”Disobek oleh teman.”

Entah kenapa saya tak percaya begitu saja. Saya pun mencoba membuka setiap saku tasnya. Dan saya mendapat jawaban dari halaman buku yang sobek. Selembar kertas yang tertera angka ”nol” besar dengan pulpen merah.

Saya mencoba meredam rasa marah saya. Saya melihat raut wajah adik, ia begitu takut. Matanya memerah menahan air mata.

Saya kemudian bertanya kembali padanya, ”Mengapa nilaimu seperti ini?” Adik saya pun menjawab, ”Saya belum paham, Mbak.”

Saya hanya tersenyum mendengar jawabannya. Saya paham betul karakternya. Jika memang mengatakan belum paham pasti dia memang betul-betul tidak paham pada pelajarannya di sekolah.

Saya kembali berkata padanya, ”Dek, mbak tidak mempermasalahkan nilaimu. Nanti malam kita belajar bersama, agar besok nilaimu lebih baik. Mbak janji, kalau kamu semangat belajar dan nilaimu lebih baik akan mbak beri hadiah. Tapi alangkah baiknya jika kamu tak merobek bukumu. Bukumu menjadi tak rapi. Mbak lebih bangga karena kamu sudah mau bersikap jujur.”

Dari pengalaman saya ini, saya menarik kesimpulan bahwa jika anak kita terlanjur melakukan kebohongan maka pancing pertanyaan yang membuatnya menjadi terbuka. Buat pertanyaan yang tidak menyudutkan. Sehingga anak kita pun semakin nyaman untuk berkata jujur.

Keempat, gunakan media lain untuk berbicara jujur

Sewaktu kecil, mungkin karena sudah terlanjur takut untuk berbicara jujur, saya memcoba menulis surat kepada orangtua. Saya menuliskan setiap kata yang rasanya sulit saya ucapkan jika di hadapan mereka. Saya nyaman dengan kejujuran saya melalui bentuk tulisan dan surat.

Dari contoh pengalaman di atas, media tulisan bisa menjadi alat yang nyaman untuk melatih anak untuk berbicara jujur. Namun kembali lagi kepada kita. Jika telah mendapati kejujuran anak kita itu, tanggapi dengan positif. Sehingga ia akan tetap berusaha terbuka meskipun melalui sebuah tulisan.

 

Kelima, berikan pujian atas keberanian anak untuk jujur

Pujian bagi seorang anak merupakan hadiah paling sederhana. Memberikan pujian pada anak sesuai dengan porsinya juga akan menumbuhkan sikap percaya diri. Maka memberi pujian kepada anak yang telah berkata jujur, merupakan hal yang paling tepat dilakukan. Dengan konsisten melakukan hal tersebut, lambat laun anak pun akan tumbuh menjadi anak yang berani berkata jujur dan lebih percaya diri.

Memang terkadang jika anak kita berbohong membuat emosi kita terpancing. Ketika anak kita berusaha terbuka dan jujur atas kebohongannya, emosi kita akan mudah meledak karena kita sudah terlanjur kecewa. Tanpa kita berpikir bahwa amarah yang kita luapkan itu bisa membuat anak kita menjadi berkecil hati. Oleh karena itu ayah bunda tahan emosi kita saat anak sedang jujur. Sehingga anak selalu merasa nyaman kejujurannya kepada kita.  (Agustina Wulandari Sutoro – Tutor PKBM Wadas Kelir)