Disdikpora Buleleng Sosialisasikan SPATSIKU, Perkuat Kolaborasi Penanganan Anak Tidak Sekolah
Singaraja Jumat, 25 September 2026 I Disdiktoday
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng terus memperkuat upaya penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui penerapan Sistem Penanganan Anak Tidak Sekolah Inklusif (SPATSIKU). Sosialisasi SPATSIKU secara daring dipaparkan oleh Kepala Disdikpora Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, S.Pd., M.A.P., dan dipandu oleh Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF, Komang Sudarsana, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah untuk memperkuat pemahaman sekaligus koordinasi lintas sektor dalam menemukan, menangani, dan memastikan anak-anak yang tidak sekolah kembali memperoleh hak atas pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Dalam pemaparannya, Kadis Gus Surya menjelaskan sejumlah materi utama, mulai dari latar belakang dan dasar hukum penanganan ATS, data terkini, hingga berbagai faktor yang menyebabkan anak berada dalam kondisi tidak sekolah. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai perubahan paradigma penanganan ATS melalui penerapan SPATSIKU.
SPATSIKU menjadi penting karena dirancang untuk mengorkestrasi dan mengintegrasikan berbagai inovasi yang telah dimiliki Kabupaten Buleleng, sehingga penanganan ATS dapat dilakukan secara lebih terpadu, terarah, dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, peran perangkat daerah terkait serta Pemerintah Desa/Kelurahan menjadi sangat penting. Perbekel dan Lurah diharapkan turut berperan dalam mengidentifikasi anak tidak sekolah, memastikan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak, serta mendorong adanya intervensi yang tepat agar hak pendidikan mereka dapat dipenuhi.
Setelah pemaparan materi, peserta diarahkan untuk mengisi kuesioner mengenai kondisi ATS di wilayah kerja masing-masing. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab.
Antusiasme peserta terlihat dalam diskusi tersebut. Sejumlah satuan pendidikan menyampaikan pengalaman serta perkembangan penanganan ATS di wilayah masing-masing. Kepala SMP Negeri 6 Tejakula, SMP Negeri 3 Sukasada, dan SMP Negeri 7 Singaraja, antara lain, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, seperti home visit, komunikasi dan diskusi dengan orang tua, hingga memberikan alternatif pendidikan melalui jalur pendidikan nonformal.
Meskipun tidak seluruh anak yang ditangani berhasil kembali mengikuti pendidikan formal, sekolah terus melakukan pendekatan agar anak tetap memperoleh akses pendidikan melalui jalur yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Selain satuan pendidikan, sejumlah Pemerintah Desa juga menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam penanganan ATS di wilayahnya. Berbagai persoalan tersebut kemudian dibahas bersama untuk menemukan alternatif solusi sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.