Cecil berceloteh tentang makna gacor, saat dia menemukan performa salah satu temannya di kelas yang menurutnya baik. Awalnya sang Bunda tak memahami artinya hingga Cecil menjelaskan arti gacor dengan gamblang.
Di rumah yang hangat, seorang ibu sering kali menjadi tempat pertama anak mengenal dunia. Namun hari ini, dunia anak tidak hanya hadir di ruang keluarga, melainkan juga di layar gawai. Di sanalah istilah-istilah baru bermunculan: gacor, cuan, FYP, viral, dan auto cuan. Kata-kata ini mungkin terdengar asing di telinga sebagian ibu, tetapi bagi anak-anak Gen Z dan Gen Alpha, itulah bahasa keseharian yang membentuk cara berpikir mereka. Sebagai ibu, memahami bahasa zaman bukan berarti harus ikut larut sepenuhnya, melainkan menjadi jembatan agar nilai-nilai kebaikan tetap sampai ke hati anak.
Ketika anak berkata, “Ma, bisnis online ini lagi gacor,” sesungguhnya ia sedang belajar tentang usaha, peluang, dan hasil kerja. Di titik itulah ibu berperan mengarahkan, bahwa gacor bukan hanya soal laris, tetapi juga tentang kejujuran, proses yang halal, dan tanggung jawab.
Istilah “cuan” sering menjadi tujuan utama. Anak-anak melihat kesuksesan seolah diukur dari cepatnya hasil. Di sinilah peran ibu menjadi penyeimbang. Ibu mengajarkan bahwa cuan yang berkah lahir dari niat yang baik, kerja keras, dan kesabaran. Tidak semua yang viral itu baik, dan tidak semua yang cepat itu benar. Ibu menanamkan nilai bahwa rezeki tidak hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang manfaat.
Media sosial mengajarkan anak untuk tampil, sementara ibu mengajarkan anak untuk berakal. Ketika anak mengejar FYP dan engagement, ibu mengingatkan pentingnya adab, empati, dan rasa hormat. Ibu menuntun anak agar cerdas secara digital tanpa kehilangan nurani. Karena sehebat apa pun teknologi, hati manusia tetap membutuhkan sentuhan kasih.
Di tengah derasnya perubahan, ibu tidak dituntut menjadi paling tahu, tetapi menjadi yang paling peduli. Mendengarkan cerita anak tentang dunia digitalnya, bertanya dengan lembut, dan memberi nasihat tanpa menghakimi. Dari situlah kepercayaan tumbuh, dan nilai kehidupan mengalir.
Pada akhirnya, ibu adalah sekolah pertama yang tidak pernah tutup. Di sanalah anak belajar bahwa kesuksesan sejati bukan sekadar auto cuan, melainkan hidup yang bermanfaat, berakhlak, dan membawa kebaikan bagi sesama. Dan di balik generasi yang tangguh di era digital, selalu ada ibu yang setia menjadi penuntun arah, dengan doa yang tak pernah putus.
Sumber : https://ditsmp.kemendikdasmen.go.id/ragam-informasi/article/ibu-dan-bahasa-zaman-menjadi-jembatan-di-tengah-perubahan